CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE
Tidak
sengaja aku temukan beberapa dokumen lama di lemari tua yang kusam, susunanya
memang tidak begitu rapi, tapi masih
terjaga, lalu asyik aku baca tulisan-tulisan itu, sedikit banyak terdapat
beberapa ungkapan yang memotivasi. Termasuk di dalamnya tentang sebuah
cita-cita menjadi seorang dokter, sampai
tidak inginya aku menjadi seorang guru dan alhamdulillah ternyata kini aku
menikmati ketidakinginanku dulu. Benar lah bahwa tiada seorang dokter, raja
sekalipun tanpa adanya seorang guru.
Mempelajari
ilmu tentang anak usia dini, yang kebanyakan orang-orang di luar sana anggap
adalah hal yang tidak penting untuk di selami, tidak perlu ada teori, ialah
sebuah keyakinan yang tidak benar. Pendidikan anak usia dini adalah pondasi
awal yang baik bagi anak.
Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdik nas,2003).
Bunda,
orang tua mempunyai peranan yang sangat penting pada masa golden age ini,tidak
terkecuali juga bagi seorang Ayah. Karena anak belajar dari apa yang mereka
lihat. Orangtua dan lingkungan sekitar
adalah tempat mereka belajar seperti apa dan bagaimana caranya menjalani
kehidupan.
Apa
maksud Tuhan membiarkan sel otak manusia, belum ada sambunganya? (Helliot,
Neurolog California, USA).
“Kesempatan”
Karena Tuhan ingin memberikan kesempatan kepada para orangtua agar dapat
membangun sel otak anaknya, sebanyak-banyaknya yang dia mampu.
Miris
sekali, ketika anak-anak belajar hal yang tidak baik dari orang tua mereka
sendiri, karena tanpa disadari lagi-lagi anak-anak belajar dari apa yang mereka
lihat.
Bila
seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum.
Bila
seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan.
Bila
seorang anak hidup dengan ketakutan, ia akan belajar dengan rasa cemas.
Bila
seorang anak hidup dengan rasa kasihan, ia akan belajar mengasihi diri sendiri.
Bila
seorang anak hidup dengan kecemburuan, ia akan belajar untuk merasa iri.
Bila
seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu.
Bila
seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Bila
seorang anak hidup dengan toleransi, ia belajar tentang kesabaran.
Bila
seorang anak hidup dengan pujian, ia belajar tentang penghargaan.
Bila
seorang anak hidup dengan penerimaan, ia belajar untuk mencintai.
Bila
seorang anak hidup dengan dukungan, ia belajar untuk menyukai diri sendiri.
Bila
seorang anak hidup dengan pengakuan, ia belajar untuk mempunyai tujuan.
Bila
seorang anak hidup dengan berbagi, ia belajar tentang kebaikan.
Bila
seorang anak hidup dengan kejujuran, ia belajar tentang kebenaran.
Bila
seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjalankan keadilan.
Bila
seorang anak hidup dengan kebaikan dan perhatian, ia belajar tentang
menghormati.
Bila
seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman.
Bila
seorang anak hidup dengan persahabatan, ia belajar untuk mencintai dunia.
(Dorothy
law Nolte, Ph.D.(1972)
Dari
beberapa kasus yang pernah aku temukan, yang paling tragis adalah kisah si “Z”. Ia selalu memukuli dirinya sendiri,
membanting setiap mainan dan benda apapun yang ada di hadapanya, kala ia tidak
mendapatkan apa yang ia inginkan. Wajar jika si“Z” berperilaku seperti ini,
karena begitulah cara orang tuanya
mengajarkanya bagaimana caranya marah,dengan memukul dan berteriak. Lagi-lagi
tanpa orangtuanya sadari.
Sudah
sepantasnya kita yang memulai untuk berbenah diri, kerana kita adalah contoh
bagi anak-anak kita .Dan kita tidak bisa memberi apa yang kita tidak miliki. Anak-anak adalah
gerbang depan Indonesia mendatang, apa jadinya jika mereka hanya bisa
memberontak, bertindak anarkis, seperti para bonek yang menyiapkan mental hanya
untuk menang? Maka Indonesia pun berada diambang kehancuran. Oleh karenanya
mental anak-anak perlu di didik sejak usia dini.
Bunda,
ada kalanya kita memberikan kesempatan pada anak untuk memilih, tidak lah selalu
harus pilihan kita yang di utamakan, karena dengan begitu ia akan belajar
bagaimana caranya bertanggung jawab atas pilihanya.
Anakmu
bukanlah milikmu,
Mereka
adalah putra putri sang Hidup,
Yang
rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka
ada padamu,
tetapi
bukanlah milikmu
(Kahlil
Gibran)

Komentar
Posting Komentar