Pembelajaran IPS AUD



PEMBELAJARAN IPS AUD
“Memahami Keterampilan Sosial yang Dikembangkan Pada AUD”

Dosen pengampu: Dodi Harianto, M.Pd.I




kelompok 5
Kelas : V A

Disusun Oleh
Cut Citra Novita (Nim : Tra.151750)
Dwi Kurniawati ( Nim : Tra. 131752)

Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN 2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt .Atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah memahami keterampilan sosial yang dikembangkan pada anak usia dini.
Penyelesaian laporan ini menjadi salah satu tugas dalam mata kuliah pembelajaran IPS anak usia dini, laporan  ini bertujuan untuk menambah wawasan dan yang dibahas dalam makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum terbilang dalam kata sempurna karena, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis .Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berba gai pihak untuk perbaikan pada pembuatan makalah yang selanjutnya.
Akhirnya penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat berma nfaat bagi para pembaca terutama bagi penulis.

                                                                                            Penulis








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
      A.   LatarBelakang...........................................................................................
      B.  RumusanMasalah........................................................................................
      C.   TujuanPenulisan........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
1.  Konsep Keterampilan Sosial Bagi AUD....................................................
2. Bentuk Keterampilan Sosial Yang Dapat di Kembangkan Pad AUD...........

BAB III PENUTUP  
A.  Kesimpulan...............................................................................................
Daftar pustaka..................................................................................... ..........











BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perilaku sosial merupakan aktivitas  yang berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara. Ketika anak berhubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang dapat membantu pembentukan kepribadiannya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarnya, yaitu dengan ibu, ayah, dan saudaranya.
Menjalin hubungan sosial dengan orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Seorang anak yang tidak banyak memperoleh peluang untuk melakukan hubungan sosial akan tampak bahwa penampilannya jauh berbeda dengan anak-anak yang dibiarkan bebas melakukan hubungan sosial. Anak yang bebas melakukan hubungan sosial akan lebih efektif dalam melaksanakan hubungan sosial karena ia mampu memilih dan melakukan perilaku tepat sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Keinginan untuk diterima dalam lingkungan teman merupakan kebutuhan yang sangat kuat bagi anak, sehingga anak akan berusaha menguasai ketrampilan sosial anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam kelompok sosialnya. Mereka akan belajar untuk berteman, berbagi perasaan, mengembangkan sikap memberi dan menerima, belajar bekerjasama, menghargai orang lain, mampu menghargai kekurangan orang lain.
Berdasarkan pengamatan terhadap anak berkaitan dengan masalah sosial diantaranya masih ada anak yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah, belum bisa menyesuaikan diri dengan berbagai peraturan yang berlaku, tidak mau berbagi dengan teman. Selanjutnya dalam proses pembelajaran di beberapa PAUD, masih ada proses pembelajaran yang menggunakan pembelajaran Konvensional dimana kegiatan aktivitas pembelajaran lebih banyak guru yang aktif bukan anak yang lebih banyak aktif dimana anak hanya sebagai pendengar yang baik ketika guru menjelaskan materi.
Selanjutnya dalam pembuatan peraturan-peraturan permainan guru sendiri yang membuat aturan tersebut, sehingga berdampak pada anak-anak yang merasa kurang percaya diri dan mereka menjadi ragu-ragu dan sering bertanya apakah dirinya boleh melakukan hal-hal yang diluar aturan guru, apakah dirinya boleh bermain sesuai dengan yang disukainya, anak merasa takut akan apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan peraturan dan kesepakatan yang dibuat guru. Oleh karena itu ketermpilan sosial pada anak usia dini perlu dilakukan melalui berbagai stimulus.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang dapat penulis ambil yaitu:
1.Seperti apa konsep keterampilan sosial yang harus dikembangkan pada anak usia dini?
2. Bagaimana cara mengembangkan keterampilan sosial pada anak usia dini?

C. Tujuan Penulisan
Berdsarkan rumusan masalah maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui:
1.Seperti apa konsep keterampilan sosial yang harus dikembangkan pada anak usia dini
2. Bagaimana cara mengembangkan keterampilan sosial pada anak usia dini





BAB II
PEMBAHASAN
.  1.Memahami Konsep Keterampilan Sosial Bagi Anak Usia Dini
Pendekatan pengembangan keterampilan didasarkan atas pandangan tentang perilaku perkembangan anak. Anak-anak usia dini perlu dikembangkan keterampilan sosial nya agar anak mampu secara efektif melakukan sesuatu  kegi atan disekolah.Menurut Taxonomy B.S. Bloom, Pendekatan pengembangan meliputi perkembangan keterampilan dalam membaca, berbahasa, dan berhitung dan perilaku yang dibutuhkanya dikelas seperti bekerja secera mandiri, memberikan perhatian, dan menyelesaikan suatu tugas.
Keterampilan Sosial,Seefeldt dan Barbour (1994: 57-59) mengatakan bahwa keterampilan sosial meliputi:keterampilan komunikasi, berbagi (sharing), bekerja sama,  dan berpartisipasi  dalam kelompok masyarakat. Anak-anak yang mempunyai kesadaran diri yang kuat,siap untuk belajar hidup bersama dengan orang lain. Kemampuan berkomunikasi adalah perilaku-perilaku yang dipelajari  untuk digunakan individu dalam situasi-situasi interpersonal  untuk memperoleh  dan  memelihara penguatan  dari lingkungan. Keterampilan sosial diperoleh melalui proses belajar, baik belajar dari orang tua sebagai figur yang paling dekat dengan anak maupun belajar dari teman sebaya dan lingkungan masyarakat.
Walker (Rosenberg,  1992: 41) menjelaskan keterampilan sosial secara umum merupakan  respon-respon dan keterampilan yang memberikan seorang individu untuk mempertahankan hubungan positif dengan orang lain. Penerimaan teman-teman sebayanya, penguasaan ruang kelas yang baik dan memberikan individu untuk mengatasi secara efektif dan bisa diadaptasi dengan lingkungan sosial. Pendapat  diatas  disimpulkan bahwa keterampilan sosial adalah kemam puan berkomunikasi, bekerja-sama, berbagi, berpartisipasi, dan beradaptasi (bentuk simpati, empati,mampu memecahan masalah serta disiplin sesuai dengan peraturan dan norma yang berlaku).
Elksnin dan Elksnin (1999: 2) mengidentifikasikan ciri-ciri ketera-mpilan social, meliputi: perilaku interpersonal; perilaku yang berhubungan dengan diri  sendiri; perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademis; perilaku yang berhubungan dengan penerimaan teman sebaya (peer acceptace); dan keterampilan komunikasi.
Perilaku interpersonal adalah perilaku yang menyangkut keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi social  yang disebut juga keteram pilan menjalin persahabatan, misalnya memper-kenalkan diri, menawar kan bantuan dan memberikan atau menerima pujian. Perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri merupakan keterampilan mengatur diri sendiri dalam situasi sosial, dengan kemampuan ini anak dapat memperkirakan kejadian-kejadian yang mungkin akan terjadi dan dampak perilakunya pada situasi sosial tertentu.  Perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademis,meliputi:  perilaku atau keterampilan sosial yang dapat mendukung prestasi belajar di sekolah. Perilaku yang berhubungan dengan penerimaan teman sebaya (peer acceptace)
Agar anak-anak tuntas pada keterampilan-keterampilan dan perilaku tersebut, maka strategi mnegajar dirancang atau didesain untuk mengubah kinerja yang mudah diamati dan diukur, adapun tujuan perkembangan keterampilan diantaranya:[1]
1. Perkembangan Kognitif
a).        Anak-anak akan merekam atau mengungkap bahasa bahasa tertulis
b).        Anak akan mengembangkan konsep angka
c).        Anak akan mengembangkan kemampuan soal-soal berhitung.
2. Perkembnagan Berbahasa
a).        Anak akan berbicara dengan benar dalam bahasa Inggris( disini  bahasa Indonesia: penyadur) yang standar.
b).        Anak akan menggunakan konsep “ lawan kata-kata” dari yang berkaitan.
c).        Anak akan mengikuti petunjuk- petunjuk yang kompleks.
3. Perkembangan Sikap
a).        Anak-anak akan menunjukkan sikap positif terhadap sekolah dan kegiatan belajarnya.
b).        Anak-anak akan mengembnagkan konsep diri yang positif dengan mengalami sendiri keberhasilan keberhasilan akademiknya.
c).        Anak-anak akan berinteraksi dengan efektif terhadap orang dewasa dan anak lainya.
d).        Tujuan diatas adalah pernyataan pernyataan yang berorientasikan produk, sebagai kebalikan dari pernyataan- pernyataan yang berorientasi pada proses. Tujuan tujuan yang berorientasi pada produk lebih terfokuskan pada hasil-hasil yang spesifik yang dapat diamati, yakni produk-produk akhir dan sama sekali bukan proses, bagaimana dan mengapa sesuatu itu diperoleh dan dicapai.
2. Bentuk Keterampilan Sosial Yang Dapat di Kembangkan Pada Anak Usia Dini
Keterampilan sosial pada anak dapat dikembangkan melalui :
a)      Kegiatan Bermian
Bermain merupakan suatu sarana yang memungkinkan anak berkembang secara optimal. Bermain dapat mempengaruhi  semuaperkembangan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan sesuatu (Carron & Jan, 1999: 21).Bruner  (Hurlock,1980: 121) bermain adalah kegiatan yang serius dan merupakan kegiatan pokok dalam masa kanak-kanak. Mayesky (1990: 196) mengatakan bagi anak-anak bermain adalah hal yang mereka lakukan sepanjang hari karena hidupnya adalah bermain.Ki Hajar Dewantara (1977: 243) mengatakan bermain merupakan kegiatan keseharian setiap anak. Hal yang serupa diungkapkan oleh Tedjasaputra (2001: xvi) dimana bermain adalah dunia kerja anak usia prasekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bermain pada masa kanak-kanak merupakan kegiatan keseharian sebagai dasar pembelajaran yang dilakukan dengan serius oleh setiap anak secara alamiah mengenai diri sendiri dan lingkungannya  danpekerjaan anak yang menunjukkan tingkah laku yang menyenangkan, dinamis, aktif, dan konstruktif.
Bentuk kegitan bermain yang dapat diterapkan diantaranya:
1)      Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan salah satu folkfore yang beredar secara lisan dan turun termurun serta banyak mempunyai variasi sehingga permainan tradisional dipastikan usianya sudah tua, tidak diketahui asal usulnya juga tidak diketahui siapa yang menciptakan permainan tersebut(Danandjaya, 1987: 171). Permainan tradisional disebut juga permainan rakyat, merupakan permainan yang tumbuh dan berkembang pada masa lalu terutama tumbuh di masyarakat pedesaan (Yunus, 1981). Permainan Peningkatan Keterampilan Sosial tradisional tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.Kebanyakan permainan tradisional dipengaruhi oleh alam sekitarnya, sehingga  menarik, menghibur sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu.
Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan tradisional menurut Sukirman Dharmamulya (Andang Ismail, 2006: 106), antara lain: melatih sikap mandiri;  berani mengambil keputusan;  penuh tanggung jawab;jujur;  sikap dikontrol oleh lawan;kerjasama;  saling membantu dan saling menjaga;  membela kepentingan kelompok;  berjiwa demokrasi; patuh terhadap peraturan; penuh perhitungan;  ketepatan berpikir dan bertindak;  tidak cengeng;  berani;  bertindak sopan;dan bertindak luwes.Karakteristik permainan tradisional  adalah  permainan tradisional menggunakan alam sekitar sebagai sumber bermain dan sebagai sumber alat permainan yang didukung kemampuan dan kreativitas dalam menggunakan bahan yang ada di lingkungan sekitar menjadi alat permainan. 
Permainan tradisional dimainkan  secara bersamaan atau kelompok. Kekua tan dari bermain permainan tradisional, yaitu mengutamakan interaksi sosial yang mengutamakan kerjasama, kekompakan, saling asah asih asuh, dan melatih emosi serta moral anak,karena dalam proses bermaian anak dituntut untuk bermain jujur, adil dan penuh  tanggung jawab.
Permainan tradisional memiliki nilai-nilai luhur dan pesan moral, seperti: nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, lapang dada (kalau kalah), dorongan  berprestasi, menghargai orang lain, keakraban, toleransi, aktif, kreatif, kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, solidaritas, sportivitas, dan taat pada aturan, jika pemain dapat menghayati, menikmati, dan mampu menikmati permainan.  Permainan tradisional  memiliki sifat yang fleksibel, yaitu dapat dimainkan di dalam ruangan maupun di luar ruangan (walau lebih banyak dimainkan di luar ruangan/ di lapangan terbuka) dan peraturan permainan pun dapat disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Pengalaman yang didapat dari pemainnya merupakan pengalaman yang bersifat emosional yang lahir dari kontak fisik dan kontak mata juga komunikasi antar pemain.
Contoh bentuk permainan tradisionla yang dapat dilakukan yaitu: Pemianan tam-tam duku, cina buta, cak ingkling, ampar-ampar pisang, lomba karung, dan lain sebagianya.
2)      Bermain Peran
Bermain peran adalah kegiatan bermain dimana anak melakukan kegitan meniru perilaku. Perilaku ini dpat berupa perilaku manusia,hewan, tanaman dan kejadian. Bermain peran juga dikenal dengan sebutan main pura-pura, khayalan, fantasi, make-believ,atau simbolik. Menurut Piaget awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak, karena main peran ditandai oleh penerapan cerita objek(misalnya anak mengaduk pasir dalam sebuah mangkuk lalu anak pura-pura mencicipinya).[2]
Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibanding anak lainya disebut sebagai collective symbolism.Main peran adalah praktik anak dalam kegiatan kehidupan nyata yang memberikan kesempatan pada anak untuk membayangkan dirinya kedalam masa depan dan menciptakan kembali kondisi masa lalu.
 Dengan demikian bermain peran yang diterapkan pada pembeljaran anak usia dini akan mengurangi sikap egosentrisnya. Keterampilan sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam berinteraksi untuk bersosialisasi secara sehat dan dapat diterima oleh orang lain. Vygotsky dalam Dit. PADU, Ditjen PLSP, Depdiknas, Sekolah Al-Falah, Jakarta Timur dan CCCRT, (2004: 3) bahwa “ melalui bermain peran anak usia dini tidak hanya berkembang kemampuan sosialnya tetapi juga berkembang kemampuan untuk menunda kepuasan, dan fungsi mental yang lebih tinggi berakar pada hubungan sosial dan kegiatan bekerjasama”.
Dalam melakukan kegiatan inti  ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru diantaranya ialah memberikan anak waktu untuk mengelola dan memperluas pengalaman main mereka,  menunjukkan sikap ramah dan penuh perhatian serta sikap bersahabat, terbuka dan pengertian kepada anak, memperkuat dan memperluas bahasa anak, mengamati dan mendokumentasikan perkembangan setiap anak, memberi motivasi kepada anak yang kurang atau belum berpartisipasi aktif dan mengumpulkan hasil kerja anak.
 Contoh Kegiatan Main Peran Di TK
1. Dokter , Dokter
a. Bahan
1] kursi dan meja kecil .
2] agenda
3] pesawat telepon bekas
4] majalah
5] seprei putih yang bersih
6] Nampan dengan peralatan kedokteran, seperti stetoskop,suntikan mainan dari plastic,dan pengukur tekanan darah,thermometer kuping, sedotan sebagai thermometer,tongkat es krim sebagai penekan lidah.
7] Kain putih besar yang digunting berbentuk segitiga untuk digunakan sebagai ambin atau kain gendongan.
8] Beberapa perban katun
9] Karton tebal
10] spidol
11] topi dan jubah rumah sakit sekali pakai.
12] kemeja putih
13] sarung tangan plastic
14] Hasil rontgen yang tak terpakai
15] keranjang sampah
16] Boneka
b. kegiatan bermain
1] Undanglah seorang petugas kesehatan professional untuk mengunjungi kelas anda. Minta ia membawa peralatan kesehatan untuk di pegang dan sakit atau ruang praktik dokter terdekat.
2] minta anak membantu menyiapkan sebuah rumah sakit atau ruang praktik dokter di area pemeliharaan rumah. Sediakan area menerima tamu [ dua atau tiga kursi dan meja kecil untuk pasien yang mengantri, serta kursi dan meja resepsionis] di dekat pintu masuk di area pemeliharaan rumah tersebut.
3] letakkan pesawat telepon tidak terpakai,agenda dan pensil di meja resepsionis .letakkan majalah di atas meja di area tunggu.
4] Letakkan dua atau tiga meja kecil di area lainnya.tutupi tiap meja dengan seprei putih untuk digunakan para “ dokter ‘ Sebagai meja periksa. Tambahkan satu meja kecil lagi untuk meletakan peralatan dokter. Namailah kantor tersebut kemudian buatlah tanda menggunakan karton tebal dan spidol. Gantung tanda tersebut diatas pintu masuk.
5] Tambahkan kostum pakaian dokter seperti topi dan jubah sekali pakai, kemeja putih, sarung tangan plastic.
6] Rekatkan hasil rontgen yang sudah tak terpakai di jendela yang terkena sinar matahari.
7] letakkan keranjang sampah di dekat meja periksa.pastikan anak membuang thermometer dari sedotan dan penekan lidah setelah digunakan.
8] umumkan jika ruang praktik dokter atau rumah sakit dibuka untuk umum secara bergiliran. Dorong anak bermain peran sebagai penerima tamu, dokter dan pasien.
9] jika anak menginginkan, anak diperbolehkan membawa boneka kesayangan mereka sebagai pasien rumah sakit.
C pengembangan kegiatan
Buatlah ambulans dari kardus besar. Gambari kardus agar mirip de ngan ambulans. Gunting dua pegangan tangan di kedua sisi kardus. Anak dapat menggunakan ambulans untuk membawa “ pasien “ ke rumah sakit. Dua anak dapat masuk ke dalam kardus sekaligus kemudian mengge nggam pegangan dan mengangkat kardus sambil berpura-pura meng emudi.





BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan uraian penjelasan diatasa maka dapat disimpulkan bahwasanya: Keterampilan sosial pada anak usia dini diperoleh melalui proses belajar, baik belajar dari orang tua sebagai figur yang paling dekat dengan anak maupun belajar dari teman sebaya dan lingkungan masyarakat. Menjalin hubungan sosial dengan orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Seorang anak yang tidak banyak memperoleh peluang untuk melakukan hubungan sosial akan tampak bahwa penampilannya jauh berbeda dengan anak-anak yang dibiarkan bebas melakukan hubungan sosial. Anak yang bebas melakukan hubungan sosial akan lebih efektif dalam melaksanakan hubungan sosial karena ia mampu memilih dan melakukan perilaku tepat sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Keterampilan sosial pada anak dapat dikembangkan melalui :Kegiatan Bermian. Dengan bermain merupakan suatu sarana yang memungkinkan anak berkembang secara optimal. Bermain dapat mempengaruhi  semuaperkembangan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
 Dua bentuk kegitan bermain yang dapat diterapkan diantaranya: Permainan Tradisional, bentuk permainan tradisional dimainkan  secara bersa maan atau kelompok. Kekua tan dari bermain permainan tradisional, yaitu mengu tamakan interaksi sosial yang mengutamakan kerjasama, kekompakan, saling asah asih asuh, dan melatih emosi serta moral anak,karena dalam proses bermaian anak dituntut untuk bermain jujur, adil dan penuh  tanggung jawab. Bermain peran adalah kegiatan bermain dimana anak melakukan kegitan meniru perilaku. Perilaku ini dpat berupa perilaku manusia,hewan, tanaman dan kejadian. Bermain peran juga dikenal dengan sebutan main pura-pura, khayalan, fantasi, make-believ,atau simbolik.




DAFTAR PUSTAKA
Mursid.2015.Belajar dna Pembelajaran Paud.Bandung: PT Reamaja Rosda Karya.
Asmawati,Luluk dkk.2010.Pengelolaan kegiatan pengembangan anak usia dini. Jakarta:Universitas Terbuka.


[1] Mursid.2015.Belajar dna Pembelajaran Paud.Bandung: PT Reamaja Rosda Karya. H. 67
[2]Asmawati,Luluk dkk.2010.Pengelolaan kegiatan pengembangan anak usia dini. Jakarta:Universitas Terbuka. H.3



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permainan Tradisional " Gasingan Kelapa"

Program stimulasi Bidang Kognitif AUD