Fa bi ayyi aalaaa irabbikumaa tukadzibaan
Fenomena alam yang menjadi
tanda tanda NYA, tampaknya sedang aku rasakan belakangan ini sejak jalan hijrah
yang ku pilih. Salah satu nya fenemona yang satu ini.
Kasihan Pak Surya, uang
tidak menjamin hidupnya tenang,istrinya pun hanya sibuk mengurusi anak semata
wayang, pikirnya ber-uang dapat menjadikanya dalang,eh ia malah terporosok ke
dalam jurang,
Harta,tahta, wanita
sudah ia kuasai, tapi tetap juga tak membuat hidup tenang. Pak Surya baru saja pulang dari Jakarta, untuk mengurus
beberapa bisnisnya yang mengalami kemerosotan. Tibanya di rumah tak ada
sambutan hangat,muka lelah dan capeknya, kian kusut melihat Raya yang merengek.
“Papa beli Mainan
Barbie baru, yang istana nya lebih besar seperti di TV.”
“Besok ya nak, Papa
baru pulang, sekarang Papa istirahat dulu ya.”
“Sekarang Pa, pokonya
Raya mau sekarang.”
Seperti itu lah selalu
Raya ketika Papa nya pulang, ia tidak datang menjumput tangan Ayahnya untuk di
cium, tapi merengek meminta dibelikan sesuatu.Raya memang terlalu di manja,
segala apa yang dimina selalu dituruti, maklum, Pak Surya dan Bu Ningsih,
sudah15 tahun mendambakan seorang anak, setelah berulang kali keguguran.Oleh
karenanya, Raya adalah seorang putri yang harus di penuhi keinginanya.
Pak Surya pikir
bibirnya kelu sudah menasehati Ningsih untuk tidak memanjakan Raya, tapi
Ningsih tak juga paham. Bagi Ningsih Raya ibarat sebuah vas mahal yang harus
selalu mengkilap, tidak boleh lecet, apalagi sampai jatuh, bisa hancur lah dia.
Uang yang Pak Surya
pikir membuatnya hidup aman justru membuat keluarganya tetap berantakan. Cerita
tentang Pak Surya ini adalah potret bahwa
di rumah yang besar ,kebahagian salah satu yang tidak bisa di beli dengan uang.
Banyak sekali cara manusia mendapatkan uang, tak jarang
hingga lupa uang nya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, ya, hidup untuk
makan, bukan makan untuk hidup.
Beberapa hari yang
lalu, aku mendapati berita buruk , namun jadi good news bagi mereka yang dengan gampang nya mendapatkan uang.Uang
yang bisa membuat tuan nya menjadi binasa. Uang yang membawa tuan nya
masuk ke dalam jerat Iblis. Bagi mereka
tak kenal pribahasa:
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang
kemudian
Aku fikir mereka
pernah meskipun selintas mendengar
pribahasa ini, tapi ya mungkin masa bodoh,karena baginya hidup hanya untuk hari
ini. Besok ya di cari lagi untuk besok.
Aku tidak iri dengan
apa yang telah mereka capai,tapi merasa bersalah karena tidak bisa
mengingatkan. Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu kebudayaan yang seperti itu
masih saja beberapa kali di lakoni, aku
pun mungkin dulu pernah terjebak mencicipi, bedanya dulu aku tak paham soal
yang begini.
Berusaha untuk
menysukuri hidup,aku tak bilang menemukan jalanku, tapi di tuntun, di tempah
disekolah berbasis agama sejak tsanawiyah membuatku jadi sedikit paham hal itu.
Merasakan ada kedamaian yang tidak bisa di beli dengan uang.Mencari keberkahan.
Menyadari betapa pentingnya agama sebagai tuntunan hidup, tidak lah mudah jika
tidak di asah sejak dini.
Belum lagi jika ku
ingat perkataan Emak,
“Kerja dengan otot itu
beda dengan kerja pakai otak.”
Aku paham apa maksud
Emak, ia tak ingin aku bernasib sama sepertinya yang mengandalkan otot-otot
perkasanya, memerasnya hingga menjadi keringat yang membakar lemak di tubuhnya,
hingga menjadi uang di setiap bulanya, setiap bulan pula berat badanya jadi menurun.
Emak memang perkasa,
pernah aku mencoba menjadi Dia sewaktu disana, cepat sekali aku mengeluh ,
“Mak, capek”(segera ia
menjawab)
“Maka nya sekolah yang
bener”
Sedikit sekali yang ia
jawab, tapi aku ingat betul sampai hari ini. Oleh karenanya kesempatan untuk
duduk di perguruan tinggi tak aku sia kan. Perjalanan jauh yang ku tempuh bersama angkutan umum menghabiskan waktu 2-3
jam perjalanan pulang pergi di awal semester , tak jadi masalah bagiku. Emak,
karena Emak dan untuk Emak.
Aku pun ingat betul
pesan Guru bahasa Inggrisku
“Jangan nikmati fase
bulan madu sewaktu kuliah.”
Begitulah kurang lebih
katanya,
Belum lagi pesanya yang
ini:
“Sebanyak- banyak nya baju
yang ada di lemari, toh yang bisa di kenakan cuman satu.”
“Semakin banyak
uang yang di dapat, semakin banyak pula
kebutuhan.”
Allah mencukupkan
rezeki hambanya sesuai dengan kebutuhanya, apalagi dengan mencari yang berkah
dan pandai mensyukurinya.
Tak perlu menjadi Pak
Surya, berusaha mensyukuri apa yang ada saat ini juga nikmat, tapi tetap
berusaha yang terbaik.
Fa bi ayyi aalaaa i rabbikuma tukazzibaan
Komentar
Posting Komentar